Kamis, 27 Oktober 2011

Mengungkap Hikmah Di Balik Ibadah Kurban

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali
tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat
mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu
mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira
kepada orang-orang yang berbuat baik.(QS.22.Al-Hajj 37).


Salah satu Ibadah yang dianjurkan untuk
dilaksanakan kepada Muslim yang mampu pada Hari Raya Hajji/Adha adalah
menyembelih hewan korban. Ibadah Korban sifatnya anjuran yang sangat baik untuk
dilaksanakan bagi para muslim/muslimah yang mempunyai kemampuan harta untuk
membeli binatang korban ( kambing,domba, unta, sapi, kerbau) yang memenuhi
syarat-syaratnya.

Secara bahasa korban dari asal kata qoroba artinya
dekat, mendekat. Yakni mendekat kepada Dzat Yang Maha Qoriib/Dekat. Atau bisa
juga mendekati derajat muttaqin, karena orang dekat pada Alloh adalah hanya
orang yang muttaqin.

Setiap tahun ritual penyembelihan dan pembagian
daging hewan korban terus berulang dilaksanakan. Adakah hikmah dibalik itu
semua? Pada kesempatan ini mari kita coba mengungkapkannya. Ulasan ini tanpa
meninjau dari sisi Sejarah Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail
AS.

Hikmah Bagi Muslim Kaya Yang
Melaksanakan:

Kita sama-sama maklum bahwa harta benda, kekayaan
yang kita usahakan adalah secara lahiriah bagi yang tak menyadari adanya
pertolongan Tuhan, maka menganggap bahwa harta kekayaan kita adalah diperoleh
dengan kerja keras, penuh kesungguhan dan investasi yang besar. Baik investasi
biaya pendidikan dan pelatuhan yang telah di infakkan oleh kedua orang tua kita,
dan juga biaya-biaya untuk melaksanakan usaha atau pekerjaan. Rasa berat
mengeluarkan uang untuk belanja hewan korban jika cara memandang harta kekayaan
yang kita peroleh selama satu tahun. Dan hewan korban dagingnya dibagikan 2/3nya
kepada orang-orang yang membutuhkan atau dinilai
perlu mendapatkan daging. Maka disinilah letak penilaian yang bisa
dilakukan oleh diri sendiri. Adakah ada ke-ikhlasan untuk mengeluarkan sebagian
uangnya untuk pembelian hewan korban. Atau seberapa besar beratnya di dalam hati
untuk melepas sebagaian kekayaan yang ada untuk di-infakkan kepada orang lain
melalui ibadah korban. Inilah rahasia bagi si-muslim yang kaya. Nilai keikhlasan
hanya karena ta'at melaksanakan anjuran Alloh dan Rosul Nya. Dan merupakan
latihan untuk ikhlas membelanjakan kekayaannya untuk memenuhi perintah Alloh
bahkan jihad (perjuangan) fi sabillah.



Hikmah Bagi Si
Penerima:

Penerima daging hewan korban, ternyata tidak
terbatas bagi orang-orang miskin. Tetapi seluruh tetangga dilingkungan dimana
dilakukan penyembelihan hewan korban mendapatkannya. Tentu saja apabila
dagingnya mencukupi. Sebenarnya ini agak kurang tepat sasaran. Karena
kenyataannya, orang-orang yang melakasanakan ibadah korban itu tidak merata di
setiap tingkat kelompok masyarakat. Di daerah makmur karena ada industri di
daerahnya biasanya hewan korban cukup melimpah. Dan enggan, hewannya disalurkan
kedaerah lain yang minus/kekurangan. Alasannya ada haq 1/3 daging hewan korban
bagi yang melaksanakan. Jadi tidak jauh-jauh menitipkan ke panitia korban.
Kecuali memang ada niat yang penuh keikhlasan dari awal tidak ada keinginan
mengambil haq 1/3 bagian daging korbannya. Inilah yang utama. Seandainya ingin
merayakan dengan daging sapi/kambing cukuplah membeli beberapa kilogram dipasar
daging untuk dimasak. Bagaimanakah rasa hati bagi penerina daging korban, baik
bagi yang miskin maupun yang bukan miskin? Ternyata adanya rasa gembira. Bukan
sekedar pemberian yang cuma-cuma dan enaknya makan daging. Tetapi bagi yang
hatinya jernih adalah melihat dan merasakan adanya kemurahan Alloh SWT, karena
telah menganjurkan orang-orang yang berlebih harta kekayaan untuk berkorban.
Seandaikan Ibadah korban tidak dianjurkan Alloh, tentu sangat sulit seseorang
yang telah bekerja keras dengan sepenuh waktu hidupnya lalu pendapatannya harus
di sisihkan untuk membeli hewan korban yang diberikan dagingnya untuk orang
lain.



Hikmah Perputaran Ekonomi
Masyarakat:

Pada saat-saat adanya kemandegan ataupun hanya
sekedar kebutuhan rutin akan daging sehari-hari bagi masyarakat yang mampu
membelinya, pelaksanaan ibadah korban adalah suatu gerakan kejut perputaran
ekonomi masyarakat. Uang-uang yang parkir dalam tabungan para si kaya dipaksa
rela dikeluarkan demi melaksanakan anjuran Alloh untuk membeli hewan korban dan
menyembelihnya untuk dibagikan dagingnya kepada orang banyak secara cuma-cuma.
Maka uang berputar dari para si kaya pindah ke peternak hewan korban walaupun
melalui bandar/tengkulak hewan korban. Uang yang diterima para peternak
dibelanjakan untuk keperluan hidup keluarga dan tentu saja menyisihkan sebagian
untuk modal membeli bibit hewan. Dan barang-barang kebutuhan seharai-hari jadi
laku dibeli, kemudian para penjual/toko akan melakukan belanja untuk mengisi
stok barang yang telah laku, sehingga proses industri pertanian, kerajinan,
pertukangan, transportasi dan lain-lain sektor jadi jalan, berputar. Belum lagi
kebutuhan bumbu untuk mengolah daging yang cukup besar, ini tentu saja juga
bernila ekonomi. Walaupun mungkin ada fihak pedagang daging yang turun omset
selama beberapa hari, karena masyarakat kebanyakan pada berpesta daging korban.
Tetapi kalau dipandang positip saja adalah sebagai hari cuti bagi mereka,
sehingga bisa istrihat atau bersilaturahmi ke keluarga atau berekreasi ke
tempat-tempat yang nyaman dan indah.



Hikmah Secara Pandangan Tasawuf/Hakikat
Manusia:

Maksud dari pandangan tasawuf adalah pandangan dari
maksud dibalik yang terliha secara tampak mata, ataupun secara syariat. Yaitu
apa yang dikehendaki Alloh pada manusia secara universal atas pelaksanaan
penyembelihan hewan korban. Manusia adalah makhluk Alloh yang tersusun atas
Jasad/badan lahir, dan Ruhani/Ruh dan akal-fikir. Ketiga anasir itu mempunyai
kebutuhan dasar yang mutlak harus dipenuhi. Jasamani manusia mempunyai kebutuhan
untuk makan makanan di atas bumi ini dan juga untuk menyambung kehidupan manusia
dianugrahi saling tertarik dengan lawan jenis yang diwujudkan pada hasrat
seksual. Yang pada dasarnya seks dilaksanakan adalah untuk melaksanakan
menyambung eksistensi manusia di bumi, bukan sekedar kesenangan nikmatnya
hubungan seks. Untuk mewujudkan dua kebutuhan ini juga ada di dalam manusia
ambisi untuk menguasai sesama manusia, bila perlu menjajah manusia lain bahkan
membunuh.

Sesungguhnya apakah yang membedakan Hewan dan
manusia itu? Tidak lain adalah manusia dilengkapi akal dan hati. Dengan akal
sehat manusia bisa membedakan mana yang bermanfaat, mana yang sia-sia atau
merugikan, mana yang baik mana yang buruk. Dengan hati manusia bisa membedakan
dan mempercayai firman-firman Alloh dan mana yang karangan manusia. Nah
penyembelihan hewan korban disini bisa dimaknai bahwasanya Alloh menghendaki
agar manusia menyembelih sifat-sifat hewani, sifat binatang yang melekat ada
pada manusia. Atau sifat hewani yang ada bisa dikendalikan atau dibatasi dengan
ada syariat agama. Karena dengan agama manusia di kenalkan kepada Alloh sebagai
Tuhan semesta alam dan diberi tahu tujuan diciptakan manusia di bumi, serta
dikenalkan pada aturan-aturan yang bila dilaksanakan menguntungkan manusia
secara lahir batin, dunia dan akhirat dan bila dilanggar menjatuhkan derajat
manusia, bahkan menghacurkan manusia. Hewan makan tanpa harus tahu makanannya
halal atau haram, punya siapa saja asal bisa dijangkau dimakan. Hewan
melaksanakan fungsi seks-nya juga bebas tanpa aturan. Semua serba boleh, asal
jenis berlawanan tak jadi soal. Tak peduli lawan jenisnya itu dulunya yang
melahirkannya, atau yang sekandung juga tidak masalah. Juga tak dibatasi
jumlahnya. Dan sifat mengusai orang lain juga harus di kendalikan dibatasi
sebatas hubungan kerja sama saling menguntungkan.



Demikianlah sekelumit penggalian makna atau hikmah
dari pelaksanaan ibadah korban. Ketiga nya diatas muaranya pada satu kata TAKWA,
orang nya muttaqin.(Her Budiarto/10 Dzulhijah 1429H/8 Desember
2008M).

1 comments:

Dzikir Pengobat Qolbu mengatakan...

alhamdulillah..smoga manfaat

Poskan Komentar

Template by:
Free Blog Templates